Laman

Sabtu, 15 September 2012

Peluang Hamil Akibat Perkosaan Lebih Besar Dibanding Seks Biasa

 Perkosaan adalah mimpi buruk semua wanita. Tak hanya mengakibatkan trauma berkepanjangan, kejahatan ini juga dapat menyebabkan kehamilan yang tak diinginkan. Beberapa penelitian menemukan bahwa peluang hamil akibat perkosaan lebih besar dibanding hubungan seks biasa.

Melisa Holmes, spesialis kandungan di South Carolina, AS, memimpin penelitian mengenai kehamilan akibat perkosaan menggunakan data dari National Crime Victims Center. Penelitiannya yang diterbitkan pada tahun 1996 menemukan bahwa 5 persen wanita usia subur korban perkosaan menjadi hamil.

Peluang ini lebih besar dibanding hubungan seks suka sama suka. Sebuah penelitian tahun 2001 dari Princeton University dan the National Institute of Environmental Health Sciences menemukan bahwa kemungkinan hamil akibat hubungan seks biasa tanpa kondom hanyalah sebesar 3,1 persen.

Di Amerika Serikat, pemerkosaan mengakibatkan sebanyak 32.101 kehamilan per tahunnya. Pada tahun 2003, Jonathan dan Gottschall Tiffani dari St Lawrence University menemukan bahwa kemungkinan kehamilan akibat perkosaan ternyata lebih tinggi.

Dari hasil survei terhadap 8.000 orang wanita di seluruh negeri, sebanyak 6,4 persen wanita korban perkosaan berusia subur mengalami kehamilan. Apabila si korban tidak menggunakan obat pengontrol kelahiran, kemungkinannya meningkat jadi 8 persen.

"Data yang tersedia tidak memberi alasan untuk berpikir bahwa kehamilan akibat pemerkosaan adalah jarang atau sedikit dibandingkan kehamilan akibat hubungan seks suka sama suka," kata Jonathan Gotschall seperti dilansir Popular Science, Kamis (23/8/2012).

Alasan kenapa risiko kehamilan akibat perkosaan lebih tinggi diduga karena pemerkosa cenderung menargetkan wanita muda yang sedang berada puncak usia suburnya. Nyatanya, perkosaan paling banyak terjadi pada wanita berusia di bawah 25 tahun dan gadis yang menjelang pubertas.

"Pemerkosa tidak memilih korban secara acak. Tanpa disadari, pemerkosa menargetkan korban berdasarkan kemungkinannya untuk terbuahi oleh sperma dan cenderung menargetkan wanita muda yang sedang tinggi kemampuannya untuk bereproduksi," kata Gordon Gallup, psikolog evolusi di SUNY Albany yang menulis buku 'The Oxford Handbook of Sexual Conflict in Humans'.

Para pria memiliki kemampuan untuk 'membaca' tanda-tanda kesuburan dan mengejar wanita yang paling menarik atau subur. Pemerkosa menargetkan korban tidak hanya atas dasar usia saja, tetapi berdasarkan seluruh sinyal fisik dan perilaku yang menunjukkan kemampuan korban untuk dapat hamil.

Bahkan, air mani sendiri ditemukan memiliki kandungan yang mendukung keberhasilan reproduksi. Air mani mengandung follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) yang memicu ovulasi atau lepasnya sel telur pada wanita.

Sebuah penelitian tahun 1973 menemukan bahwa 70 persen dari kehamilan akibat perkosaan terjadi di luar periode paling subur pada wanita. Bahkan sebuah penelitian tahun 1949 melaporkan adanya 7 orang wanita yang hamil akibat perkosaan, padahal sudah tidak mengalami menstruasi selama 2 tahun.

Gallup menjelaskan, air mani yang sangat berisiko menyebabkan kehamilan justru yang dihasilkan dari hubungan seks yang terputus atau coitus interupptus, misalnya menarik penis dari vagina saat berhubungan seks menjelang ejakulasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berita Populer